Minggu, 06 November 2022

Tugas 1.1.a.8 Koneksi Antar Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

 


Tugas 1.1.a.8 Koneksi Antar Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

1.1.a.8

Koneksi Antar Materi

Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

Perkanalkan saya,

Deni Wijayani, M.Pd

Calon Guru Penggerak Angkatan 7

SMPN 5 Cilawu

Kabupaten Garut, Jawa Barat

Pertanyaan Pemantik dalam Koneksi Antar Materi - Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1

1. Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda mempelajari modul 1.1?

2. Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?

3. Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

Pada kesempatan kali ini saya akan membuat simpulan dan refleksi pengetahuan dan pengalaman yang baru dipelajari dari pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Sebelum saya mempelajari modul 1.1 tentang filosofi pendidikan menurut Ki Hajar dewantara, awalnya saya menganggap bahwa siswa itu bagaikan kertas kosong (konsep tabula rasa) yang bisa di tulis atau di gambar apa saja oleh si pendidik, sehingga berimplikasi pada proses pembelajaran di kelas,  dimana guru menjadi satu-satunya pusat dan sumber belajar (teacher centric). Aktifitas siswa lebih banyak mendengarkan dan mencatat segala materi yang di ajarkan guru sehingga kesempatan mereka untuk mengemukakan pendapat dan mengembangkan potensinya kurang teraktualisasi.

Saya juga belum menyadari secara utuh akan keberadaan kodrat alam dalam diri anak, sehingga sering kesal dan marah ketika ada anak yang agak sulit diajak bekerjasama, dan bermalas-malasan dalam mengikuti pelajaran. Saya sangat menyadari belum banyak  hal yang bisa saya lakukan dalam meramu dan  menyuguhkan model-model pembelajaran yang menyenangkan bagi para siswa.

saya juga berasumsi bahwa dengan sikap dan tindakan tegas dalam  menghukum siswa bisa mengubah perilaku mereka. Ketika siswa melakukan kesalahan dengan tegas saya memberikan hukuman yang kemungkinan besar tidak sesuai dengan kodrat mereka,  seperti pada saat mereka bertengkar atau berkelahi maka saya menghukum mereka dengan menjewernya dan menyuruh mereka untuk saling bermaaf-maafan dan membersihkan WC sekolah. Kemudian  juga pada saat mereka tidak mengerjakan tugas, saya memarahi dan memberikan hukuman yang nyaris sama. Padahal jika dianalisa lebih jauh tidak ada korelasi dengan tugas yang di berikan. Mereka memang berubah dalam sikap dan ketaatan kepada saya terutama dalam tugas yang diberikan,  namun perubahan yang terjadi sepertinya cuma didasari oleh rasa takut dan tentunya  bersifat sementara karena ketaatan yang dilakukan bukan ataskesadaran diri pribadinya

Setelah mempelajari modul 1.1 tentang filosofi pendidikan KHD alhamdulillah ada pencerahan dimana mulai tumbuh kesadaran bahwa siswa bukanlah seperti kertas kosong yang bisa di gambar apa saja oleh pendidiknya, melainkan seluruh siswa mempunyai qodrat, minat dan bakat tertentu. Ibarat kertas yang sudah ada gambar-gambar bergaris putus yang belum jelas dan tugas pendidik adalah menyambungkan garis-garis tadi dan menebalkannya sehingga nampak sekali minat, bakat dan potensi yang dimiliki siswa bisa mencapai perkembangan yanmg maksimal. Tugas pendidik adalah menuntun dimana kita pendidik memberikan keleluasaan kepada siswa untuk mengembangkan potensinya dan juga belajar sesuai karakteristik belajarnya masing-masing tetapi dalam hal-hal yang substansi tetaplah guru harus menuntun siswa agar tidak terpeleset apalagi terjatuh ke pemahaman dan pergaulan yang salah.

Hidup tumbuh dan kembangnyanya anak ternyata terletak di luar kemampuan dan  kehendak kita sebagai pendidik. Anak adalah makhluk hidup, manusia, yang mempunyai qodratnya sendiri, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya. Kita para pendidik hanya dapat menuntun tumbuh dan kembangnya kekuatan-kekuatan kodrat itu, agar dapat memperbaiki lakunya (bukan dasarnya) hidup dan tumbuhnya itu. Dalam menuntun kita dapat mengibaratkan diri kita sebagai petani, dan anak-anak yang kita didik sebagai benihnya (misalnya benih jagung). Kita sebagai pendidik hanya dapat menuntun tumbuhnya jagung tersebut, dengan cara memperbaiki kondisi tanah, memelihara tanaman jagung, memberikan pupuk dan air yang tepat, membasmi hama yang mengganggu tanaman dan lain sebagainya, tetapi kita tidak dapat mengganti kodrat-nya jagung. Kita tidak bisa memaksa jagung itu tumbuh seperti kedelai

Hal-hal yang akan saya coba terapkan di kelas agar pembelajaran yang saya lakukan mencerminkan pemikiran  Ki Hajar Dewantara adalah sebagai berikut.

Pertama, saya harus mengubah mindset saya yang tadinya berfikir bahwa anak itu adalah seperti selembar kertas kosong yang tidak/belum tahu apa-apa, saya percaya bahwa setiap anak lahir sudah mempunyai potensinya masing-masing, meskipun masih terlihat samar. Saya harus lebih peka dalam menelaah dan mengenali setiap potensi anak yang saya didik agar pembelajaran dan pendidikan yang saya berikan mampu menggali potensi minat dan bakat anak seoptimal mungkin.

Kedua, saya mencoba menciptakan suasana kelas yang lebih menyenangkan. Hal ini sejalan dengan kodrat anak yang senang bermain. Kita bisa mengkolaborasikan asiknya permainan ke dalam kegiatan pembelajaran. Saya juga  harus mengupayakan pembelajaran yang berpusat pada anak. Memberikan ruang, kesempatan, dan fasilitas seluas-luasnya agar anak mampu berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Saya akan menempatkan diri saya sebagai fasilitator yang menuntun anak agar ia mampu mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Di akhir pembelajaran penting bagi saya untuk memberikan penguatan terhadap materi-materi konseptual agar anak tidak mengalami miskonsepsi. Selain itu, melalui pembelajaran yang berpusat pada anak saya berharap bias lebih mengoftimalkan minat bakat mereka.

Ketiga, sebagai wujud dari tujuan utama pendidikan yaitu menjadikan anak yang beriman dan bertaqwa serta berakhlakul Karimah, bukan hanya cerdas secara akademis, tapi juga memiliki budi pekerti yang luhur. Sebagai pendidik Saya selain memberikan wejangan, harus bisa juga memberikan teladan yang baik. Jadi anak tidak hanya melakukan apa yang saya katakan, tapi harapannya anak mampu meneladani perilaku-perilaku baik yang saya contohkan. Selain sebagai upaya memotivasi anak agar berbudi pekerti baik, ini juga bisa jadi tantangan untuk saya bagaimana caranya agar saya bisa konsisten memberikan keteladanan yang baik. Guru sebagai sosok yang digugu dan ditiru seperti yang di ungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, dari atas saya bisa memberikan teladan bagi setiap anak didik saya, Ing Madyo Mangun Karso di tengah saya bisa jadi teman yang memberikan semangat, serta Tut Wuri Handayani dari belakang saya bisa memberikan dorongan moral serta semangat belajar. 

 Semoga bermanpaat untuk meningkatkan kompetensi kita sebagai agen perubahan paradigma pendidikan.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar